ku lelah. Bukan sekadar letih di badan, tapi lelah yang merayap diam-diam, menggerogoti hati seperti karat pada besi tua. Aku tahu, aku memang salah. Tak perlu kau ulang-ulang, karena setiap detik yang kulewati, kesalahan itu sudah menjadi gema yang tak pernah berhenti di kepalaku sendiri.
Aku menduakanmu ya, dengan kedua tanganku ini. Tangan yang dulu kau genggam dengan percaya, yang dulu kau yakini tak akan pernah melepasmu, justru menjadi alat yang melukis pengkhianatan. Ironis, bukan? Bahwa yang paling dekat justru bisa melukai paling dalam.
Tapi kau tak pernah benar-benar melihat isi kepalaku. Kau hanya melihat hasil akhirnya luka itu. Kau tak pernah tahu bagaimana aku berperang dengan diriku sendiri, bagaimana setiap malam aku mencoba menarik kembali langkah yang sudah terlanjur jauh. Aku bukan tak merasa bersalah. Aku hanya... terlalu lama menahan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak bisa jelaskan.
Ada batas dalam kesabaran, dan aku sudah melewati batas itu tanpa sadar. Semua terasa menyesakkan. Seperti berdiri di ruang sempit tanpa jendela, tanpa udara, tanpa jalan keluar. Aku mencoba bertahan, mencoba menjadi apa yang kau harapkan, tapi perlahan aku kehilangan diriku sendiri.
Dan di titik itulah aku jatuh. Bukan karena aku ingin menghancurkanmu, tapi karena aku tak lagi mampu menahan diriku yang sudah retak dari dalam.
Kini, yang tersisa hanya rasa ini penyesalan yang tak bisa kuputar ulang, dan luka yang tak bisa kuhapus begitu saja. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku telah menyakitimu.
Tapi percayalah, di balik semua itu… aku juga tersiksa. Lebih dari yang pernah kau bayangkan.